Senin, 03 Oktober 2016



SIKAP MENTAL PEMENANG VS SIKAP MENTAL PECUNDANG


SIKAP MENTAL PEMENANG
  1. IKHLAS BERJUANG KARENA ALLAH. Keikhlasan adalah bekal dan kekuatan awal bagi seorang pemenang untuk berjuang dijalan Allah swt. Keikhlasan berjuang hanya karena Allah swt demi mengharap ridho dan cinta-Nya serta balasan surga-Nya membuat sang pejuang akan selalu memiliki energy untuk bekerja maksimal mewujudkan impian dan tugas besar yang diembannya. Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah mengatakan “keikhlasan akan membuat amal yang berat terasa ringan, sebaliknya ketidak ikhlasan membuat amal yang ringan terasa berat”. Milikilah keikhlasan, karena keikhlasan adalah energy terbesar yang dimiliki manusia, yang iblis laknatullah pun tidak sanggup menggoda dan menjatuhkan orang yang ikhlas berjuang karena Allah swt. Keikhlasan membuat seorang pejuang dan pemenang tidak peduli pada kritikan, pujian dan cacian orang lain, karena ukuran sukses kerjanya adalah pujian dan ridha Allah swt, Rasul-Nya dan Orang yang beriman, bukan dari manusia umumnya.
  2. MEMILIKI VISI DAN CITA-CITA UNTUK MENANG. Seorang pemenang adalah mereka yang bermimpi dan bertekad untuk menang. Tidak mungkin atau sangat jarang seorang pemenang adalah orang yang tidak punya keinginan dan cita-cita untuk menang. Karena jika begitu menangnya adalah kebetulan bukan keinginan. Sebagaimana Rasulullah saw bercita-cita besar untuk menaklukan Romawi dan Parsi. Ketika beliau memecahkan batu ketika menggali parit di Perang Khandaq, beliau mengatakan kelak Romawi dan Parsi akan kita taklukan. Ternyata cita-cita beliau itu terbukti dan terwujud oleh beliau dan para sahabat ra. Imam Syahid Hasan al Banna pun pernah mengatakan bahwa kenyataan hari ini adalah impian hari kemarin. Semua penemuan besar dan prestasi dahsyat seperti ditemukannya pesawat, mobil, computer, hand phone, senjata canggih, kekayaan besar, ataupun prestasi spektakuler dari atlit kelas dunia dalam perlombaan dan kompetisi olahraga, maka semuanya berawal dari impian dan cita-cita mereka untuk meraih kemenangan dan kesuksesan. Maka beranilah untuk bermimpi dan bercita-cita.
  3. YAKIN DAN OPTIMIS BISA MENANG. Seorang pemenang adalah mereka yang optimis dan yakin bahwa semua impian dan target yang ditetapkannya bisa tercapai jika mereka terus berusaha dan berdoa dengan konsisten. Mereka optimis pada kemampuannya. Terlebih dari itu mereka optimis pada pertolongan Allah swt. Karena Allah swt berkata “siapa yang menolong agama-Ku, maka Aku akan menolongnya”. Dalam Surat An nuur ayat 55 Allah swt berjanji bahwa kelak orang-orang beriman akan dijadikan-Nya pemimpin-pemimpin di muka bumi.
  4. BERANI MENCOBA DAN BERANI GAGAL. Sikap mental pemenang berikutnya adalah keberanian untuk mencoba dan berani untuk menghadapi kegagalan. Bagi seorang pemenang kegagalan itu biasa. Tapi mereka tetap belajar dari kegagalan. Karena kegagalan dapat mendewasakan kita dan mendidik kita. Kegagalan juga guru terbaik untuk menunjukkan dimana letak kekurangan kita. Kegagalan membuat mental kita harus lebih kuat dari sebelumnya, karena pastilah setiap kegagalan menyebabkan terpukulnya jiwa kita. sehingga untuk mengatasinya diperlukan jiwa yang kuat dan tahan banting. Pepatah mengatakan “nahkoda yang tangguh tidak dilahirkan di laut yang tenang, tapi dilaut yang berombak”. Sejarah Para pemenang diseluruh dunia, adalah sejarah kegagalan yang mereka lalui dengan tetap menjaga optimism sehingga akhirnya kegagalan itu gagal dalam menggagalkan mereka. Contoh nyatanya adalah Rasulullah saw, dapat dikatakan selama 13 tahun berdakwah di Mekkah, maka mayoritas dakwahnya menemui kegagalan yaitu penolakan dan permusuhan dari orang yang didakwahinya. Tapi hal itu tidak membuat nyali beliau ciut untuk terus berdakwah. Sikap inilah yang akhirnya menyebabkan keberhasilan beliau dalam berdakwah.
  5. PANTANG MENYERAH. Sikap mental seorang pemenang berikutnya adalah pantang menyerah dan selalu bangkit setiap kali terjatuh. Rasulullah saw dan para sahabatnya adalah pribadi-pribadi yang pantang menyerah sebelum sebelum selesainya pertandingan ataupun sesudah selesainya pertandingan. Mereka berjiwa climbers yaitu berjiwa pendaki sejati yang terus berjalan dan berjalan menuju puncak impian dan cita-citanya. Mereka tidak hanya berhasil menaklukan madinah dan mekkah, tapi terus merangsek ke seluruh jazirah arab, bahkan 1/3 penjuru dunia akhirnya bisa dikuasai. Dalam perjalanannya mereka melalui kesulitan dan tantangan. Mereka kekurangan pasukan dan perlengkapan. Kendala ini tidak membuat mereka menyerah. Mereka bertarung sampai tetes darah penghabisan. Tapi alih-alih kalah, justru mereka meraih kemenangan, dengan modal sikap pantang menyerahnya tadi.  Contohnya ketika menghadapi pasukan Romawi yang bersenjata lengkap dengan 200 ribu pasukan, sementara ummat islam hanya sekitar 20 ribu orang dengan persenjataan tidak selengkap pasukan musuh. Tapi sikap mental pemenang dan pantang menyerah membuat mereka tidak gentar dan takut, justru semakin memicu nyalinya dan tertantang untuk mampu menaklukan musuh dengan kekuatan sebesar itu.
  6. 6. SABAR MENGHADAPI KESULITAN. Kesabaran adalah modal dasar dari para pemenang. Kesabaran membuat kualitas orang-orangnya melejit 10 kali lipat dibanding orang yang tidak sabar. Allah swt mengatakan dalam Surat Al Anfaal ayat 66 “Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”. Pertarungan pastilah penuh dengan tantangan internal dan eksternal, maka hanya orang sabar yang dapat melewatinya.
  7. SIAP BERKORBAN DAN MEMBAYAR HARGA KEMENANGAN. Perjuangan untuk meraih kemenangan jelas menuntut pengorbanan dan harga yang mesti dibayar diawal. Pepatah mengatakan “tidak ada makan siang yang gratis”. Artinya tidak ada dalam hidup ini sesuatu yang kita peroleh tanpa sebab. Hokum alam dan sunnatullah berlaku, jika kita ingin akibat maka kita harus melakukan sebab. Maka pengorbanan dan kerja keras adalah sebab yang akan melahirkan kemenangan. Ada harga yang mesti kita bayar dulu diawal sebelum cita-cita dan keinginan kita raih. Allah swt berfirman, jika kita ingin mendapatkan Surga dan dibebaskan dari azab yang pedih, maka kita harus mau berkorban dengan harta dan jiwa kita di jalan Allah. (Surat Ash Shaf : 10 – 11). Bunker Hunt seorang milyarder mengatakan “Sukses itu sederhana saja. Pertama, putuskanlah apa yang anda inginkan secara spesifik. Kedua, putuskanlah anda bersedia membayar harganya untuk menjadikan itu terjadi”. Kehidupan bisa juga menjadi contoh bagi untuk menjadi pemenang maka diperlukan pengorbanan dan harga yang mesti dibayar. Sebuah yang tajam dan indah, berawal dari sebuah balok besi yang tidak begitu berharga. Tapi ketika besi itu dibakar, dipukul berkali-kali, direndam diair, dibakar lagi dan lagi, kemudian diasah, yang seandainya besi itu bernyawa maka dia akan berteriak kesakitan dengan penyiksaan itu. Tapi setelah semua pekerjaan itu selesai, yang tertinggal adalah sebilah pedang yang tajam dan indah yang harganya jauh lebih mahal dan jauh lebih berharga dari potongan besi tadi. Artinya jika kita ingin lebih tajam dan lebih kuat, kita harus siap menderita untuk meraihnya. Imam Ibnul Qayyim mengatakan “orang-orang pintar disetiap ummat sepakat bahwa kenikmatan itu tidak bisa didapat dengan kenikmatan pula. Siapa yang mementingkan kesenangan ia akan kehilangan kesenangan. Siapa yang berani menentang badai dan menghadapi rintangan, ia akan memperoleh kegembiraan dan kenikmatan”
  8. BANYAK BEKERJA, SEDIKIT BICARA.  Seorang pecundang itu adalah yang menginginkan kemenangan dan hanya menginginkannya, sedang seorang pemenang adalah yang menginginkan kemenangan dan melakukannya. Albert Einstein mengatakan 1 ons aksi lebih berharga dari 1 ton teori. Yang mengantarkan seseorang pada kesuksesan bukanlah ilmu. Karena betapa banyak orang berilmu seperti Profesor dan Doktor tapi hidupnya biasa-biasa saja. Yang mengantarkan seseorang pada kesuksesan adalah Ilmu yang diterapkan. Einstein, Ilmuwan terbesar abad ini, mengatakan bahwa “kejeniusan saya 1 % nya adalah kecerdasan dan 99 % nya adalah kerja keras,”. Artinya Einstein mengatakan semua prestasi dan karya yang dihasilkannya bersumber dari kerja keras dan tindakan yang dilakukannya. Inilah The Power of Action. Contohnya kenapa orang bisa tenggelam? Semua kita umumnya menjawab karena tidak bisa berenang. Tapi kalau kita lakukan percobaan dengan berendam seluruh tubuh kita di bak mandi yang airnya hanya setinggi 30 cm selama 30 menit apa yang terjadi? Ya kita juga akan mati dan tenggelam. Jadi orang tenggelam dan mati bukan karena tidak bisa berenang, tapi karena tidak bergerak.
  9. TIDAK MENCARI ALASAN. Seorang yang memiliki mental pemenang tidak suka mencari-cari alasan, untuk tidak melakukan apa yang harus dilakukannya. Alasannya hanya satu, yaitu alasan untuk melakukan, bukan alasan untuk tidak melakukan. Kalau kita perhatikan kebanyakan orang gagal adalah mereka yang selalu banyak alasan untuk tidak berbuat apa-apa dan menjadi siapa-siapa. Mereka berdalih dengan kesehatan yang buruk, ekonomi yang krisis, orang tua yang miskin, pendidikan yang rendah, fisik yang lemah, keberuntungan yang kurang, dana yang sedikit, jumlah yang kurang dan berbagai macam alasan lainnya untuk menjadi pembenaran atas ketidak siapan dan ketidak mauan untuk bertindak dan bertarung. Sedangkan seorang pemenang justru tidak mencari alasan apapun yang melemahkan atau menyebabkan dia tidak mau bekerja. Mereka menepiskan semua kekurangan dan kelemahan yang mungkin menjadi alasan bagi mereka untuk tidak melakukan apa-apa atau merasa pesimis sebelum bertarung.
10.  BERTANGGUNG JAWAB.Tidak hanya menepiskan semua alasan untuk lemah, para pemenang adalah yang bertanggung jawab terhadap kehidupannya. Mereka yakin dengan Firman Allah swt “bahwa tidak akan terwujud perubahan kalau bukan dia yang akan merubahnya”. Pepatah mengatakan “kita tidak bisa merubah keadaan tapi kita bisa mengubah sikap kita menghadapi keadaan” atau kita tidak bisa mengubah arah angin, tapi kita bisa mengubah arah sayap pesawat kita”. orang yang bertanggung jawab tidak menyalahkan atau mengkambing hitamkan orang lain, tapi mereka bertanggung jawab terhadap semua hasil yang diperolehnya. Sikap ini membuat mereka selalu berusaha berbuat yang terbaik agar tidak mengalami kegagalan. Kehidupan ini adalah kumpulan keputusan yang mesti diambil dengan bertanggung jawab. Sehingga mereka selalu mengambil keputusan terbaik dalam hidupnya untuk bertindak yang terbaik.
11.  TEGUH PENDIRIAN (Istiqamah). Sikap mental seorang pemenang berikutnya adalah sikap teguh pendirian atau istiqamah. Allah swt menjanjikan kemenangan dan surga bagi orang yang meneguhkan pendirian mereka. ““Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; (QS 41:30-32). Secara bahasa Istiqamah adalah anonim dari thughyan (penyimpangan atau melampaui batas). Ia bisa berarti berdiri tegak di suatu tempat tanpa pernah bergeser, karena akar kata istiqamah dari kata “qaama” yang berarti berdiri. Maka secara etimologi, istiqamah berarti tegak lurus. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, istiqamah diartikan sebagai sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen.
12.  TAWAKKAL. Allah swt berfirman dalam Surat Ath Thalaq ayat 3 “ barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka Dia akan mencukupkan kebutuhannya”. Tawakkal artinya berserah diri kepada Allah swt setelah berusaha. Allah swt menyuruh kita untuk tawakal setelah bertekad kuat dan berusaha “ Setelah berazzam maka bertawakallah kepada Allah”. Sikap tawakal akan mendatangan pertolongan Allah swt kepada kita, karena memang Dia-lah Pemilik Segala kekuatan, Penentu segala Kemenangan, Yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa, yang bisa mengubah apa yang tidak mungkin menjadi mungkin cukup hanya dengan satu kata “kun” maka “fayaku” terjadilah dia. Sikap mental tawakkal juga menjadi tameng mental, sehingga kita tidak menjadi gelisah dan cemas menghadapi saat pertarungan ataupun menjadi depresi dan frustasi menghadapi kegagalan, karena kita sudah pasrah atas kehendak-Nya.

SIKAP MENTAL PECUNDANG
Sedangkan orang yang kalah atau para pecundang memiliki sikap mental yang berlawanan dengan para pemenang. Mereka cendrung putus asa, lemah semangat, tidak optimis, dan mudah menyerah. Berikut ini adalah sikap mental pecundang yang harus kita buang dari diri kita :
  1. BERJUANG KARENA SELAIN ALLAH DAN HANYA UNTUK MATERI SEMATA. Seorang pecundang adalah orang yang berjuang dalam rangka kepentingan duniawi semata. Dia melupakan tujuan yang hakiki yaitu untuk meraih ridha Allah swt. Rasulullah saw bersabda “ Setiap amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang mendapatkan apa yang dia niatkan”. Seseorang yang berjuang bukan karena selain Allah, sangat mungkin dia memiliki niat untuk mendapatkan harta, tahta dan wanita/pria. Akibatnya jika semua targetnya itu sudah tercapai maka dia akan berhenti berjuang. Perjuangan bukan karena selain Allah akan menumbuhkan sikap pragmatis, egois dan indivdualis pada dirinya karena tujuannya adalah untuk meraih kenikmatan dan kesenangan pribadi sehingga sangat mungkin mengorbankan orang lain dan kepentingan bersama demi kepentingan pribadinya.
  2. BERCITA-CITA RENDAH : KALAU MENANG BAIK, KALAU TIDAK GIMANA LAGI. Seorang pecundang adalah mereka yang bercita-cita rendah dan tidak memiliki optimism dna keyakinan untuk menang, sehingga dia akan berkata kalau menang baik, kalau tidak gimana lagi. Akibatnya dia tidak berusaha sungguh-sungguh dan mungkin tidak kuat menghadapi ujian dan godaan yang mampu menghentikan langkahnya menuju tujuan.
  3. LEMAH SEMANGAT. Seorang pecundang semangatnya kadang naik kadang turun. Dia mudah dipengaruhi oleh orang lain. Kalau orang lain semangat maka dia ikut semangat, sebaliknya jika orang lain lemah maka dia ikut lemah juga. Lemah semangat akan menyebabkan mundur dan menyerah serta tidak optimal dalam bekerja. Semua itu disebabkan kepribadian yang lemah dan tidak memahami hakikat dan urgensi perjuangan untuk meraih kemenangan.
  4. TIDAK PERCAYA DIRI. Seorang pecundang adalah yang tidak percaya pada kemampuannya sendiri. Dia merasa minder dan malu untuk berbuat dan bekerja. Dia sangat sensitive terhadap kritikan. Kritikan dapat membuat harga dirinya hancur sehingga dia akan menarik diri dan melarikan diri dari masalah dan tantangan. Orang yang tidak percaya pada dirinya, bagaimana mungkin akan membuat orang lain percaya pada dia. Orang yang percaya pada dirinya adalah orang yang memiliki harga diri yang tinggi. orang yang memiliki harga diri tinggi memiliki cirri sebagai berikut :
  • Keyakinan besar
  • Prestasi tinggi
  • Penuh tanggung jawab
  • Berani sukses
  • Disiplin
  • Prilaku produktif ; ramah, pemaaf, sopan, mendukung, berani mengambil risiko
  • Tujuan spesifik
  • Tingkat energi tinggi
Sedangkan orang yang memiliki harga diri yang rendah memiliki cirri sebagai berikut:
  • Tidak percaya diri
  • Prestasi rendah
  • Menghindari tanggung jawab
  • Takut sukses
  • Tidak disiplin
  • Prilaku tidak produktif ; takut, merasa bersalah, tertekan, cemburu, hindari risiko
  • Tidak ada tujuan
  • Tingkat energi rendah
  1. TIDAK SABAR MENGHADAPI KESULITAN DAN MUDAH MENGELUH. Seorang pecundang adalah orang yang tidak sabar dan kuat menghadapi kesulitan dan ujian. Sehingga dia mudah mengeluh dan mudah putus asa
  2. TAKUT GAGAL. Seorang pecundang adalah orang yang takut gagal sehingga dia takut untuk mencoba dan bertindak. Sebelum bertindak dia sudah berpikir bahwa dia akan gagal, sehingga dia tidak melakukan apa-apa. Akibatnya dia tidak akan pernah berhasil. Karena keberhasilan berawal dari tindakan.
  3. MUDAH MENYERAH. Seorang pecundang adalah mereka yang mudah sekali menyerah. Mereka lari dari medan pertempuran. Mereka mundur dari gelanggang karena takut dan tidak siap menghadapi kesulitan dan resiko. Padahal selagi kita tidak menyerah, maka tidak ada yang namanya kegagalan. Thomas Alva Edison saja mengalami 10.000 kegagalan sebelum akhirnya berhasil menciptakan bola lampu. Padahal Allah swt melarang keras untuk mundur atau lari dari medan pertempuran, kecuali hanya berbelok untuk siasat perang ( Surat Al Anfaal : 45)
  4. MALAS DAN LALAI. Seorang pecundang adalah para pemalas dan lalai dalam bekerja. Mereka berhenti sebelum orang berhenti. Mereka terlambat untuk datang padahal orang sudah hadir. Mereka memperturutkan diri berada dalam zona nyaman dan status qup sehingga tidak siap dan tidak mau berubah. Mereka statis dan jumud. Dalam bekerja asal-asalan dan separo hati, hanya sekedar menuntaskan kewajiban, tidak ada determinasi dan target untuk berbuat dan bekerja yang terbaik. Inilah pecundang sejati. Mereka ini yang disebut sebagai Qaaidun yaitu orang yang duduk-duduk dan tinggal dirumah ketika mukmin yang lain pergi berjuang sebagaimana yang difirmankan Allah dalam Surat At Taubah ayat 46. Mereka itulah orang yang dimurkai Allah dan merugi dunia dan akhirat.
  5. SUKA MENUNDA. Para pecundang adalah orang yang tidak disiplin dan suka menunda. Sering terlambat ketika rapat atau ketika pergi bekerja. Sehingga dia ditinggalkan oleh orang lain. Padahal kalau dia menyadari waktu sepersekian detik dalam lari 100 meter, bernilai pemecahan rekor dunia. Akibat suka menunda pekerjaan yang harus dilakukan hari ini, maka banyak waktunya terbuang percuma. Padahal waktu adalah asset yang paling berharga dimiliki manusia. Akibatnya tertunda pulalah kemenangannya, karena didahului dan disalip oleh orang lain.
10.  BANYAK BICARA, SEDIKIT BEKERJA. Para pecundang adalah orang yang hanya bisa bicara, bahkan cendrung besar mulut. Tapi tidak ada bukti dan realisasi yang Nampak dari kerja yang dilakukannya. Tidak sesuai antara perkataan dan perbuatannya. Omongan besar kerja kecil. Omongan besar hasil nihil.
11.  MUDAH GOYAH DAN PLIN PLAN. Seorang pecundang adalah mereka yang mudah goyah oleh rayuan dan mudah lari oleh kesulitan. Sehingga mereka tidak bertahan lama dalam suatu keadaan dan perjalanan. Mereka cendrung mencari aman dan bersikap pragmatis. Mereka berbuat kalau jelas menguntungkan bagi dirinya untuk sesaat saja. Akibatnya mereka akan selalu keluar jalur dan melenceng dari tujuan semula.
12.  BANYAK ALASAN DAN SUKA MENYALAHKAN. Seorang pecundang adalah mereka yang suka mencari alasan untuk tidak berbuat. Disamping itu kalau gagal mereka tidak mau bertanggung jawab, mereka cendrung menuding dan menyalahkan orang lain. Akibatnya mereka tergantung pada orang lain sehingga tidak akan bisa menjadi pemenang, karena kemenangan itu sepenuhnya adalah karena usaha kita. dalam Surat At Taubah ayat 45 dikatakan bahwa hanya orang-orang munafik saja yang meminta izin atau mencari uzur agar tidak ikut berperang, karena sikap pragmatis mereka dan ragu-ragu mereka. Mereka melihat perjuangan yang dilakukan beresiko dan penuh kesulitan sehingga mereka tidak mau ikut. Tapi jika hal itu mendatangkan keuntungan barulah mereka mau.
13.  LARI DARI TANGGUNG JAWAB DAN BERKHIANAT. Seorang pecundang adalah mereka yang lari dari tanggung jawab dan amanah yang diberikan padanya. Atau mereka berpura-pura bekerja dan pura-pura beriman, sedangkan dibelakang mereka mencemooh dan tidak mau bekerja. Padahal Allah swt melarang berkhianat terhadap Allah dan Rasul-Nya dan berkhianat terhadap amanah yang diberikan padanya. (QS Al anfaal : 27)
Inilah perbedaan antara sikap mental pemenang dan sikap mental pecundang. Jika kita ingin menang maka milikilah sikap mental pecundang. Jika kita ingin menang jauhi dan buanglah sikap mental pecundang dari diri kita. selamat berjuang. Kalau kita yakin dan berusaha, insya Allah kita pasti menang. Allahu Akbar!!












KISI KISI DAN NOMOR SOAL
 BIO KELAS 101,2
1. Siswa dapat memahami tentang ruang lingkup yang di pelajari dalam ilmu bio : 1P.
2. Siswa dapat menyelesaikan masalah dengan metode ilmiah : 2P
3. Siswa dapat memahami tetang cabang ilmu bio dan penerapanya : 3P, 1U.
4. Siswa dapat memahami tentang manfaat mempelajari bio di berbagai bidang : 4P
5. Siswa dapat memahami tentang Keanekaragaman MH.: 5P, 3U
6. Siswa dapat Mengklasifikasikan MH. : 6P
7. Siswa dapat memahami tentang pembagian wilayah Indonesia berdasar faunannya: 7P
    Dan pelestarian MH : 2U
8. Siswa dapat mengenali bagian bagian dari struktur virus. : 8P,
9. Siswa dapat memahami tentang karakter virus dan reproduksi virus: 9P.4U
10 Siswa dapat memahami tentang penyakit yang disebabkan oleh vurus. : 10P, 5U.




6 SYARAT MENUNTUT ILMU

6 syarat menuntut ilmu
Sungguh agung dan mulia kedudukan seorang ahli ilmu di sisi Allah SWT, Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang dianugerahi ilmu beberapa derajat, sebagaimana Allah firmankan:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Yang artinya: niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Almujadilah ayat 11
Dalam sebuah hadis, nabi pun menyanjung orang alim dengan membandingkannya dengan ahli ibadah sebagaimana beliau sabdakan:
فضل العالم علي العابد كفضل القمر ليلة بدر علي سا ئر الكواكب
Kelebihan seorang alim (ilmuwan) terhadap seorang ‘abid (ahli ibadah) ibarat bulan purnama terhadap seluruh bintang. (HR. Abu Dawud )
Menuntut ilmu hukumnya sangat wajib bagi setiap muslim yang berakal, baik miskin atau kaya, orang kampung atau pun orang kota, selama dia berakal sehat wajib hukumnya menuntut ilmu. Dikatakan dalam Hadis :
طلب العلم فريضة علي كل مسلم
“Menuntut ilmu itu sangat wajib bagi setiap muslim” (HR Ibnu Majah)
Dalam kajian hukum Islam, bahwa standar hidup yang ideal bagi manusia adalah Haddul Kifâyah, Lâ Haddul Kafaf (batas kecukupan, bukan batas pas-pasan)[1]. Dan kita tahu bahwa kewajiban dalam menuntut ilmu dimulai dari rahim ibu sampai liang lahat. Dengan demikian untuk memenuhi standar hidup yang ideal hendaknya tidak hanya pas-pasan. Dalam kitab “Ta’lim al-Muta’allim” yang ditulis oleh Imam Al-Zarnuji, beliau menulis bahwa syarat-syarat mencari ilmu menurut Imam Syafi’i dari Imam Ali bin Abi Thalib ada 6, yaitu:
أخي لن تنال العلم إلا بستةٍ
سأنييك عن تفاصيلها ببيـان
ذكاء وحرص واجتهاد ودرهم
وصحبة استاذٍ وطول زمان

1. Cerdas
Cerdas adalah salah satu syarat untuk menuntut ilmu. Kecerdasan adalah bagian dari pengaruh keturunan jalur psikis. Dari ayah dan bunda yang cerdas akan lahir anak-anak yang cerdas, kecuali adanya sebab-sebab yang memungkinkan menjadi penghalang transformasi sifat-sifat tersebut baik situasi fisis maupun psikis. Sehat jasmani dan lemah jasmani, makanan bayi dalam kandungan maupun situasi psikis ayah bunda seperti semangat dan himmah menuntut ilmu, melakukan kejahatan, emosi, maupun warna pikiran akan ikut memberikan pengaruh yang besar bagi keturunan. Itulah buktinya bahwa dari ayah dan bunda yang sama akan lahir anak-anak dengan kondisi fisik, watak, sifat dan kecerdasan yang berbeda.
Tentang kaitan keturunan dengan ilmu pengetahuan maka kita perlu mengingat bahwa yang diturunkan dari orangtua adalah tingkat kecerdasannya saja bukan kekayaan ilmu pengetahuan. Kekayaan ilmu pengetahuan tidak ada jalan lain kecuali belajar dengan baik. Sabda nabi SAW:
انما العلم با لتعلم
“Bahwasanya ilmu itu diperoleh dengan (melalui) belajar”. Al-Hadis
Dan yang menjadi masalah sekarang bagaimana anak yang cerdas (karena keturunan) tetapi tidak memiliki ketekunan dan kesungguhan dalam menuntut ilmu, jawabannya sudah pasti bahwa dia tidak akan menjadi orang pandai/‘Alim.
2. Rakus atau Tamak
Rakus adalah (punya kemauan dan semangat untuk berusaha mencari ilmu)
“Kejarlah cita-citamu setinggi langit”. Peribahasa ini memberikan arti bercita-citalah setinggi-tingginya dan raihlah cita-cita itu sampai dimana pun. Peribahasa tersebut memberikan motivasi kepada kita untuk pantang menyerah mengejar cita-cita (pendidikan) kita. Orang yang menuntut ilmu haruslah seperti peribahasa di atas: “selalu berusaha dan berusaha menuntut ilmu untuk mencapai cita-cita yang tinggi”. Bahkan menurut Imam as-Syafi’i, dalam menuntut ilmu janganlah langsung merasa puas terhadap apa yang telah didapat dan jangan hanya menuntut ilmu di satu daerah saja.
قال الامام الشافعي في مدح السفر
سافر تجد عوضا عمن تفارقه
وانصب فان لذيذ العيش في النصب
yang artinya:
Pergilah kau, kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.
Rasul berpesan dalam sebuah hadis:
اطلب العلم و لو بالصين
Walaupun keshasihan hadis ini dipertanyakan, setidaknya hadis ini memotivasi kita untuk pergi jauh dalam menuntut ilmu dan mengejar cita-cita.
Allah pun telah mengingatkan agar tidak semua mu’min pergi berperang, melainkan ada segolongan diantara mereka yang memperdalam ilmu agar bisa memberi peringatan kepada kaumnya
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. At-taubah ayat 122.
Tiga kategori manusia menurut hadis yang diriwatkan oleh Imam Dailami, Rasulullah bersabda:
من كان يومه خيرا من أمسه فهو رابح، ومن كان يومه مثل أمسه فهو مغبون ومن كان يومه شرا من أمسه فهو ملعون
ada tiga kategori manusia: Beruntung: jika hari ini lebih baik dari kemarin, Merugi: hari ini sama seperti kemarin, Celaka/Dilaknat: hari ini lebih buruk dari kemarin.
Jika iri adalah perbuatan yang dilarang, maka iri kepada orang berilmu dibolehkan Rasul, dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhori, Rasul bersabda:
لاَحَسَدَ اِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالاً فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلْكَتِهِ فِى الْحَقِّ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ الْحِكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِيْ بِهَا وَيُعَلِّمُهَا {رواه البخاري}
Tidak ada iri hati (yang diperbolehkan) kecuali terhadap dua perkara, yakni :
seseorang yang diberi Allah berupa harta lalu dibelanjakanannya pada sasaran yang benar, dan
seseorang yang diberi Allah berupa ilmu dan kebijaksanaan lalu ia menunaikannya dan mengajarkannya. (HR Al Bukhori)

Di antara jenis penyakit hati adalah sombong, ujub, iri, dengki, tamak, dst. Jadi di antara bentuk penyakit hati adalah iri dan dengki. Dalam bahasa Arab atau bahasa agama ia disebut dengan hasad. Hasad adalah tidak senang melihat seseorang mendapatkan nikmat serta berharap agar nikmat tersebut lenyap. Dalam hal ini hasad berbeda dengan ghibthah. Sebab, ghibthah adalah berharap mendapatkan nikmat seperti yang didapat oleh orang tanpa menginginkan harta itu lenyap dari orang tadi. Inilah iri yang baik yang disebutkan oleh Nabi saw,
لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَتْلُوهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ فَسَمِعَهُ جَارٌ لَهُ فَقَالَ لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلَانٌ فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَهُوَ يُهْلِكُهُ فِي الْحَقِّ فَقَالَ رَجُلٌ لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلَانٌ فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ
Tidak boleh iri kecuali dalam dua hal, yaitu (1) seseorang yang Allah ajarkan al-Quran kepadanya. Kemudian ia membacanya malam dan siang sehingga tetangganya mendengarkannya. Lalu tetangga tersebut berkata, “Kalaulah aku diberikan karunia seperti si Fulan, maka aku akan beramal seperti yang ia amalkan”; dan (2) seseorang yang Allah karuniai harta. Ia menghabiskan hartanya dalam kebenaran. Lalu seseorang berkata, “Kalaulah aku dikaruniai seperti apa yang dikaruniakan kepada si Fulan, maka aku akan beramal seperti apa ia amalkan”. (H.R. Bukhari).
3. Penuh Perjuangan dan Sabar
Dikutip dari bukunya Prof. KH. Ali Yafie “Manusia dan Kehidupan” bahwa manusia pada hakekatnya dihadapkan kepada pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab (tantangan). Seorang manusia harus mampu menjawab berbagai pertanyaan menyangkut kehidupannya yang terkait dengan berbagai tantangan dan persoalan. Seorang yang menuntut ilmu sudah barang tentu akan menghadapi macam-macam gangguan dan rintangan. Selain berusaha maka bersabarlah untuk menghadapi semuanya itu, dan perlu diketahui bahwa sabar adalah sebagian dari Iman, “As-Shobru mina al-îmân”. Dan Sabar disini mengandung arti tabah, tahan menghadapi cobaan atau menerima pada perkara yang tidak disenangi atau tidak mengenakan dengan ridha dan menyerahkan diri kepada Allah Swt. Sabda nabi Saw:
الصبر ضياء (رواه مسلم)
“Bersabar adalah cahaya yang gilang-gemilang”. (HR. Muslim)
Sabar artinya tabah, tahan menghadapi cobaan. Orang yang sabar tahan menerima hal-hal yang tidak disenangi atau tidak mengenakkan dengan ridha dan menyerahkan diri kepada Allah.
Sabar adalah salah satu akhlak terpuji. Sabar juga merupakan salah satu kunci untuk meraih kebahagiaan dan ketenangan hidup. Hidup di dunia ini penuh dengan tantangan dan cobaan. Manusia dalam menjalani kehidupannya di dunia ini tidak luput dari ujian dan cobaan, ketika mengalami ujian dan cobaan kita harus menhadapinya dengan sabar. Sifat sabar bagaikan cahaya yang terang benderang dalam suasana yang gelap gulita.
Akan tetapi kesabaran disini harus diartikan dalam pengertian yang aktif bukan dalam pengertian yang pasif. Artinya nrimo (menerima) apa adanya tanpa usaha untuk memperbaiki keadaan. Sesuai ajaran agama pengertian sabar dan kata-kata sabar itu misalnya dapat ditemukan di dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran. Yakni satu surat yang terdiri dari 200 ayat yang menjelaskan tentang keseluruhan perjuangan besar dan berat yang telah dilakukan rasulullah Saw sepanjang hidupnya dan itu semua direkam dalam Surat Ali Imran. Ada dua perjuangan berat dan sangat menentukan yaitu pertempuran badar dan uhud. Di dalamnya terdapat banyak kata-kata sabar, tetapi kata-kata sabar itu selalu diletakan dalam konteks perjuangan bukan dalam konteks seseorang ditimpa musibah. Dengan demikian dapat diperoleh gambaran dan kesimpulan pengertian bahwa sabar yang aktif itu artinya suatu mentalitas ketahanan belajar, memiliki mental yang kuat untuk tekun belajar dan berusaha keras seoptimal mungkin dengan penuh daya tahan, tidak jemu, tidak bermalas-malasan, tetapi belajar dengan penuh semangat. Selain itu, dalam belajar harus berkonsentrasi karena jika belajar pikirannya bercabang maka tidak bisa optimal. Salah satu bagian dari sabar adalah Hudurul Qalb atau berkonsentrasi.
4. Bekal (biaya)
Setiap perjuangan pasti ada pengorbanan, itulah logikanya, manusia menjalani hidup ini butuh pengorbanan begitupun menuntut ilmu. Biasanya, dalam hal biaya ini menjadi dalih masyarakat yang sangat utama dalam menuntut ilmu khususnya pada pendidikan formal. Sehingga ketika ditanya salah seorang yang tidak belajar di pendidikan formal misalnya, “kenapa kamu atau dia tidak sekolah?” jawabannya sungguh gampang sekali, “saya atau dia tidak sekolah karena tidak punya biaya.
Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa pendidikan wajib hukumnya bagi setiap muslim, dan dijelaskan lagi dalam hadis
اطلب العلم من المهد الي اللحد
“Tuntutlah ilmu mulai dari rahim ibu sampai liang lahat”. Dari hadis tersebut kita bisa mengetahui long life education bahwa, seumur hidup kita wajib menuntut ilmu. Pendidikan bukan hanya pendidikan formal tetapi non formal pun ada.
Rasul menjanjikan kepada para penuntut ilmu,
ان الله تكفل لطالب العلم برزقه
“Sesungguhnya Allah pasti mencukupkan rezekinya bagi orang yang menuntut ilmu”
Dalam lafal hadis di atas tertulis lafazh takaffala dengan menggunakan fi’il madhy yang aslinya mempunyai arti ‘telah mencukupkan’ yang “seolah-olah” sudah terjadi. Maka lafazh tersebut mempunyai makna pasti, asalkan dibarengi dengan keyakinan terhadap kekuasaan Allah. Dan yakinkanlah bagi para penuntut ilmu walaupun dengan segala kekurangan (biaya) pasti mampu atau bisa menyelesaikan pendidikan. Karena pasti akan ada jalan lain selama manusia berusaha dan yakin terhadap kekuasaan dan pertolongan Allah Al-Yaqinu Lâ Yuzâlu bis-Syak Artinya: ”keyakinan tidak bisa dihilangkan oleh keragu-raguan”. Dan akhirnya maka tidak ada alasan orang tidak bisa menuntut ilmu karena biaya, seperti keterangan sebelumnya carilah jalan lain, solusi lain untuk bisa menuntut ilmu.
5. Bersahabat dengan Guru
Ilmu didapat dengan dua cara. Pertama dengan bil kasbi. Yakni didapat dengan cara usaha keras sebagaimana layaknya pencari ilmu biasa. Ia belajar menuntut ilmu dengan tekun belajar dari bimbingan yang benar. Kedua dengan bil kasyfi. Yakni dengan cara mendekatkan diri kepada Allah Swt secara total. Dengan kedekatannya kepada Allah Swt, Allah akan memberi apa yang ia minta. Cara ini adalah cara untuk orang khusus. Sebagai penuntut ilmu berusahalah semaksimal mungkin untuk dapat mengkorelasikan keduanya. Juga, berusaha semaksimal mungkin untuk mendapat petunjuk guru karena tanpa petunjuk guru dan tanpa taqarrub (ibadah mendekatkan diri) total kepada Allah bisa jadi ilmu tersebut datangnya dari iblis la’natullah ‘alaih. Profesionalisme guru artinya seorang guru harus mampu menguasai pelajaran sesuai dengan bidangnya.
Sebagai guru haruslah mempunyai sifat-sifat yang mencerminkan kemuliaan ilmu dan tabi’at (akhlaq) yang baik. Kita analogikan seorang petani profesional akan merawat tanamannya dari rumput pengganggu, ia akan membasmi hama dan penyakitnya. Demikian pula seorang pendidik haruslah membersihkan dirinya dari segala kebiasaan buruk dalam masyarakat. Ia akan tanggap dan waspada dengan para penyeru maksiat. Hendaklah ia membenahi dirinya sebelum ia menebarkan benih-benihnya. Ia harus menanamnya dalam lahan yang subur. Hendaklah ia menyibukkan diri dengan amal kebaikan, kesibukan-kesibukan akhirat yang akan menjadi tameng dari syahwat dan syubhat. Kemudian sebaik-baik pendidik adalah yang konsisten dengan Al-Qur’an dan Al-Sunnah yang tercermin lewat akhlak dan amalan-amalannya yang shalih. Cerdas dalam mendeteksi penyakit hati serta berpengalaman dalam mengobatinya, remaja yang tumbuh dari pendidikan—tarbiyah—yang baik maka akan menjadi buah yang segar nan ranum. Ia bermanfaat bagi diri dan masyarakat sekitar.
Beberapa ciri-ciri tabi’at guru (pendidik) yang harus ditanamkan adalah sebagai berikut:
Mencintai pekerjaannya sebagai guru
Adil terhadap semua murid
Sabar dan tenang
Berwibawa (dilihat dari ilmu dan taqwanya) serta kemampuan memengaruhi orang lain
Selalu ikhlas mendoakan muridnya
Berusaha ikhlas mengajarkan ilmunya.
Akibat dari sikap cuek terhadap guru, diungkapkan dalam sebuah pepatah arab:
إن المعـلمَ والطبيبَ كلاهُما لا يَنْصَحَانِ إذا همـا لم يُكْرَمَـا
فاصبر لدائك إن أهنتَ طَبِيبَهُ واصبر لجهلك إن جَفَوْتَ مُعلّما

Sesungguhnya pengajar/guru dan thabib/dokter keduanya tidak akan memberi nasehat jika keduanya belum dihormati. Maka bersabarlah dengan rasa sakitmu jika engkau menjauhi dokter, dan nikmatilah kebodohanmu jika engkau menjauhi guru.
Sementara dalam menghormati guru, Imam Ali bin Abi Thalib berkata:
من علمني حرفا صرت له عبداً
Barang siapa mengajarkan kepadaku satu huruf, maka aku menjadi hamba baginya.
6. Waktu yang lama
Maksudnya selesaikanlah pendidikan itu samapai tuntas, jangan sampai berhenti di tengah jalan
Imam Syafi’I pernah berkata:
ومـــن لــم يذق مـــر التعلم ســـاعة = تجرع ذل الجهـل طـــول حياتــه
ومــــن فاتــه التعليم وقـــــت شبابه = فكبــــر عليه أربعـــــا لـــــوفاته
وذات الفتى – والله – بالعلم والتقى = إذا لـــم يكونا لا اعتبـار لــذاته

Imam Syafi’i Rahimahullah dalam syairnya berkata :
“Barang siapa tidak pernah merasakan pahitnya belajar meski sekejap. Dia akan menelan hinanya kebodohan sepanjang hayatnya
Barang siapa yang ketinggalan belajar waktu mudanya. Maka bertakbirlah 4 kali (shalat mayit) untuk wafatnya (kematiannya)

Jati diri seorang pemuda Demi Allah adalah dengan ilmu dan taqwa. Jika keduanya tiada, dia juga dianggap telah tiada (Diwanus Syafi’i, hal 29)
Imam Syafi’I juga pernah curhat kepada gurunya Imam Waki’ tentang susahnya mendapatkan ilmu:
شكوت الى وكيع سوء حفظي
فأرشدني إلى ترك ترك المعاصي

وأخبرني بأن العلم نور
ونور الله لا يهدى لعاصي

Aku mengadu kepada Imam Waki’i tentang susahnya menghafal atau mendapatkan ilmu. Maka Imam Waki’i memberiku petunjuk untuk meninggalkan maksiat dan mengabarkan kepadaku bahwa ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang bermaksiat.
Dalam sebuah hadis Rasulullah menekankan peranan ilmu sebagai kunci dalam meraih kesuksesan di dunia dan akhirat:
«من أراد الدنيا فعليه بالعلم ومن أراد الآخرة فعليه بالعلم ومن أرادهما معا فعليه بالعلم أيضا»
“Barang siapa yang menginginkan kehidupan dunia, hendaklah dengan ilmu. Siapa yang ingin kehidupan akhirat dengan ilmu. Dan siapa yang menginginkan keduanya (dunia & akhirat) juga dengan ilmu” [HR Bukhari & Muslim]
Namun satu hal yang perlu diingat, walau pun kita meraih kesuksesan, hendaknya kita tetap rendah hati atau tawadhu, sebagaimana diungkapkan dalam sebuah pepatah:
تواضع تكن كالنجم لاح لناظر
على صفحات الماء وهو رفيع
ولاتك كالدخان يعلو بنفسه
الى طبقات الجو وهو وضيع

Bertawadhulah seperti bintang yang jelas nampak terlihat di atas permukaan air padahal ia berada di tempat yang tinggi, dan janganlah engkau seperti asap, yang terus membumbung tinggi, padahal ketika sampai di udara ia menghilang.
Wallahu a’lam bisshowab!


Senin, 29 Februari 2016

MTS M3 SEDAYULAWAS


AYO ANAK KLS 7B  TUNJUKKAN BAKAT MU





Dari pada buang ampah banyak lebih baik di manfaatkan jadi barang yang berguna dan manfaat seperti saya dan teman  teman.  maka saya mengajak kepada teman teman janganlah membuang sampah sembarangan awas bisa banjir, kotor, bauk dan lain lain.

dan yang penting kita dapat sertifikat menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa
he ingat annadhofatu minal iman ..........


horeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee  .

MTs M3 sedayulawas


4 R  UNTUK MENGATASI SAMAPAH


mas haqul ma mas eros lagi action

Bagaimana mengatasinya? Ya… dengan mengurangi sampah. Jangan sampai sampah menumpuk, menumpuk, dan semakin menggunung. Caranya? Jangan dibakar! Karena hanya akan menimbulkan pencemaran udara. Untuk mengurangi sampah, cara yang cukup efektif dan banyak digemakan oleh para pecinta lingkungan adalah 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Nah, disini saya ingin menambahkan 1 R lagi, yaitu Replace sehingga menjadi 4R. Penasaran? Berikut ini penjelasan mengenai 4R.


1. Reduce (Mengurangi)
Agar tidak banyak menghasilkan sampah kita bisa meminimalisir penggunaan benda-benda sekali pakai yang bisa menjadi sampah. Contohnya:
    Jajanan Sekolah yang Banyak Menggunakan Kemasan Plastik
  • Ketika berbelanja, sebaiknya membawa tas belanja sendiri sehingga tidak perlu lagi menggunakan kantong plastik.
  • Jangan sering-sering membeli minuman kemasan botol. Kalau minuman sudah habis, botolnya hanya menambah sampah.
  • Kurangi jajan. Jajanan di sekolah-sekolah biasanya menggunakan kemasan plastik, seperti snack, permen, minuman, juga makanan yang dijual ‘abang-abang’ PKL. Selain tidak menimbulkan sampah, dengan tidak banyak jajan kita terhindar dari berbagai penyakit karena jajanan berpotensi mengganggu kesehatan.
  • Apabila kamu sering membeli koran atau majalah, jangan langsung dibuang setelah dibaca. Sebaiknya didaur ulang atau dijual ke tukang loak.
  • Usahakan mengeprint atau fotokopi secara bolak-balik. Dengan demikian, jumlah kertas yang diperlukan lebih sedikit. Lebih baik lagi bila menggunakan kertas-kertas HVS bekas yang baru dipakai 1 halaman, sementara halaman satunya masih kosong. Halaman kosong tersebut masih bisa digunakan untuk mengeprint tugas sekolah. Sudah banyak guru yang membolehkan, bahkan menganjurkan hal tersebut (misalnya guru saya). Guru yang baik akan menerima apabila siswanya melakukan hal tersebut karena kesadaran akan keselamatan lingkungan. Tidak hanya mengurangi sampah, tetapi juga dapat menghemat kertas yang secara tidak langsung dapat menyelamatkan hutan.
  • Hilangkan sifat konsumtif. Masyarakat Indonesia terkenal cukup konsumtif, sehingga sangat sering berbelanja dan mengonsumsi barang. Barang-barang, baik makanan, pakaian, alat elektronik, perabot rumah tangga, semua dijual menggunakan kemasan. Oleh karena itu, belilah barang yang dibutuhkan saja. Jangan berbelanja secara berlebihan.


2. Reuse (Menggunakan Kembali)
Orang-orang kreatif biasanya mampu mengubah sampah menjadi sesuatu yang bernilai guna, bahkan bernilai jual. Dengan menggunakan kembali benda-benda tidak terpakai, sampah menjadi berkurang dan kita tidak perlu lagi membeli barang karena barang yang kita perlukan dapat kita buat sendiri menggunakan barang tak terpakai tersebut. Contoh-contoh lainnya yaitu:
    Berbagai Kerajinan dari Sampah Plastik
  • Biasakan untuk tidak membuang kantong plastik yang kita dapat dari pasar, warung, mall, ataupun supermarket. Kantong plastik tersebut sebaiknya dikumpulkan agar dapat digunakan kembali apabila kita membutuhkan kantong untuk membawa barang.
  • Gunakan kaleng-kaleng bekas sebagai tempat pensil, pot tanaman, celengan, dan sebagainya. Agar lebih indah, kaleng tersebut bisa dicat dan dihias menggunakan kreativitas kita.
  • Gunakan kembali baju-baju bekas tak terbakai sebagai lap atau keset. Dengan kreativitas, kita juga bisa membuat selimut, serbet, taplak meja, tas, atau dompet dari kain-kain bekas.
  • Belajarlah membuat kerajinan (handycraft)dari barang-barang bekas. Menciptakan kerajinan akan melatih keterampilan dan menumbuhkan kreativitas.

3. Recycle (Mendaur Ulang)
Pupuk Kompos yang Terbuat dari Sampah OrganikDengan mendaur ulang sampah, benda-benda yang tidak terpakai akan dapat dipakai lagi setelah melalui proses. Mendaur ulang sampah anorganik memang sulit bila dilakukan sendiri, tetapi kita dapat dengan mudah mendaur ulang sampah organik dengan mengubahnya menjadi pupuk kompos. Sampah organik yang dapat dijadikan kompos yaitu dedaunan kering, sisa-sisa makanan, dan limbah rumah tangga yang berupa zat organik. 

Jenis-jenis sampah yang memiliki 3 golongan, sebaiknya dipilah-pilah untuk memudahkan kita memberikan perlakuan kebada masing-masing golongan sampah. Misalnya untuk sampah anorganik, yang bisa kita lakukan adalah:
  • Mengumpulkan botol-botol plastik sisa minuman, kaleng-kaleng bekas, kertas-kertas bekas, koran, dan majalah.
  • Memilah-milah sampah anorganik, seperti sampah kertas, sampah plastik, dan kaleng.
  • Menyalurkannya ke petugas daur ulang dikota kamu atau tukang loak.


4. Replace (Mengganti)
Mengganti yang saya maksud disini adalah mengganti barang yang kita gunakan dengan yang lebih ramah lingkungan. Misalnya:
Plastik Biodegradable yang Ramah Lingkungan
  • Mengganti penggunaan kantong plastik biasa dengan plastik biodegradable. Plastik jenis ini lebih eco-friendly karena mudah diuraikan.
  • Mengganti botol minum dengan botol yang dapat digunakan berulang kali, atau botol dari bahan almuminium.
  • Jangan malu menggunakan tas yang terbuat dari kain perca batik atau plastik bekas kemasan detergen sebagai pengganti tas kamu. Tas unik dan menarik, apalagi ramah lingkungan, akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi yang memakainya.
  • Daripada menggunakan styrofoam, lebih baik bawa kotak bekal sendiri sebagai tempat makanan.


Itulah cara-cara mengurangi sampah dan sedikit perkenalan tentang 4R (Reduce, Reuse, Recycle,Replace) untuk Mengurangi Sampah dari saya, mudah-mudahan hal-hal kecil yang telah dicontohkan dapat dilakukan sebagai bentuk partisipasi terhadap penanganan masalah lingkungan yang kini menjadi fokus utama bagi dunia. Ayo… kurangi sampah, selamatkan lingkungan!


Sabtu, 20 Februari 2016

SMA M 9 brondong


Perbedaan Monokotil dan Dikotil




Tumbuhan berbunga (Angiospermae) dapat dibagi menjadi dua, yaitu tumbuhan monokotil dan dikotil. Keduanya sangat mudah dibedakan setelah perkecambahan, karena pada monokotil tumbuh daun tunggal (1 kotiledon), sedangkan dikotil tumbuh dua daun tunggal (2 kotiledon). Jadi, pengertian monokotil adalah tumbuhan berbunga yang menghasilkan biji dengan 1 kotiledon. Sedangkan pengertian dikotil adalah tumbuhan berbunga (angispermae) yang menghasilkan biji dengan 2 kotiledon dan dapat mengalami pertumbuhan eksogen, seperti pertumbuhan pada batang akibat dari penebalan kambium. Berikut merupakan perbedaan lain dari kedua jenis tumbuhan tersebut.
Perbedaan Antara Monokotil dan Dikotil
Yang menjadi dasar utama dalam klasifikasi monokotil dan dikotil adalah jumlah kotiledonnya. Kotiledon adalah daun lembaga yang mengandung nutrisi untuk embrio, sampai embrio tersebut memiliki daun-daun dan dapat memproduksi makanannya sendiri melalui proses fotosintesis. Jumlah kotiledon pada tumbuhan monokotil adalah satu, sedangkan tumbuhan dikotil memiliki dua kotiledon.
  • Biji Monokotil: Berkeping 1
    Dikotil: Berkeping 2
  • Tulang Daun Monokotil: Sejajar atau melengkung
    Dikotil: Menjari atau menyirip
  • Bunga Monokotil: Jumlah mahkota, kelopak, dan benang sari bunga kelipatan 3
    Dikotil: Jumlah mahkota, kelopak, dan benang sari bunga kelipatan 4 atau 5 (dapat berbuah)
    Jumlah bagian-bagian bunga dan tulang daun tidak selalu dapat dijadikan pembeda dari monokotil dan dikotil karena pada beberapa tumbuhan tidak mengikuti ciri-ciri umum keduanya
  • Akar Monokotil: Serabut. Ujung akar lembaga dilindungi koleoriza. Terbentuk dari batang (akar adventif)
    Dikotil: Tunggang. Terbentuk dari percabangan akar utama (radikula).
    Pada sebagian besar tumbuhan dikotil, akar terbentuk dari ujung bawah embrio (radikula). Radikula membentuk meristem apikal yang selanjutnya membentuk jaringan akar, sedangkan pada tumbuhan monokotil, akar terbentuk dari pembengkakan akar (akar adventif)
  • Pertumbuhan Sekunder Monokotil: Tidak ada pertumbuhan sekunder. Hanya pertumbuhan memanjang.
    Dikotil: Biasanya terdapat pertumbuhan sekunder sehingga dapat tumbuh membesar
    Pertumbuhan sekunder pada tumbuhan dikotil menyebabkan terbentuknya kayu dan kulit pada pohon serta menambah diameter pohon. Pertumbuhan ini tidak terjadi pada tumbuhan monokotil
  • Berkas Pengangkut Monokotil: Tersebar di seluruh batang tanpa susunan khusus. Tidak memiliki korteks
    Dikotil: Membentuk cincin (melingkar). Tersusun atas korteks dan stele (xilem dan floem)
    Berkas pengangkut terdiri dari xilem dan floem yang terdapat di tulang daun. Xilem terdiri atas pembuluh-pembuluh xilem yang panjang dan berbentuk tabung. Xilem mengangkut air dari akar hingga ke daun untuk menggantikan air yang hilang karena transpirasi, sedangkan floem mendistribusikan produk hasil fotosintesis dari daun ke batang dan seluruh bagian tumbuhan.
    Xilem dan floem terbentuk dari sel-sel kambium meristematik. Jaringan yang terbentuk dari kambium dan tumbuh ke luar akan membentuk kulit pohon (bark), sedangkan ke dalam membentuk batang kayu (wood).


    Hamid sedayulawas asli

Jumat, 19 Februari 2016

AKEK, berhati hatilah dengan AKIK


Assalamu'alaikum Wr. Wb

Ya  Akhi ya Ukhti





Termasuk Syirik Kepada Allah , Percaya kepada Jimat dan Sejenisnya

Bismillahirrahmanirrahim.

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا



Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. An Nisaa : 48)

Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Basyir Al Anshari RA, bahwa dia pernah bersama Rasulullah dalam suatu perjalanan beliau, lalu beliau mengutus seorang utusan (untuk memaklumkan):

أن لا يبقين في رقبة بعير قلادة من وتر أو قلادة إلا قطعت

"Supaya tidak terdapat lagi di leher unta kalung dari tali busur panah atau kalung apapun, kecuali harus diputuskan".

وعن ابن مسعود رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: (إن الرقى والتمائم والتولة شرك) [رواه أحمد وأبو داود]

Dari Ibnu Mas'ud menuturkan : Aku telah mendengar Rasulullah bersabda:

"Sesungguhnya ruqyah, tamimah, dan tiwalah adalah syirik" (HR. Ahmad dan Abu Dawud)


--------------------------------------------------------------
Tamimah : Sesuatu yang dikalungkan di leher, atau tangan anak-anak untuk menangkal atau menolak 'ain. Dapat berupa benang hitam, gelang tulang binatang ikan Hiu, Bulu Landak, dan benda-benda lain.

Ruqyah : Ruqyah diizinkan selama penggunaannya bebas dari hal-hal syirik, sebab Rasulullah telah memberikan keringanan dalam hal ruqyah ini untuk mengobati 'ain atau sengatan kalajengking.

Tiwalah : Sesuatu yang dibuat dengan anggapan bahwa hal tersebut dapat membuat seorang istri atau suami agar mencintai atau sebaliknya.
---------------------------------------------------------------

وعن عبد الله بن عكيم مرفوعاً: (من تعلق شيئاً وكل إليه). رواه أحمد والترمذي

Hadits Marfu' diriwayatkan dari 'Abdullah bin 'Ukaim:

"Barang siapa menggantungkan sesuatu barang (dengan anggapan bahwa barang itu bermanfa'at atau dapat melindungi dirinya), niscaya Allah menjadikan dia selalu bergantung kepada barang tersebut (HR. Ahmad dan at Tirmidzi)


قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم: يا رويفع! لعل الحياة تطول بك، فأخبر الناس أن من عقد لحيته، أو تقلد وتراً، أو استنجى برجيع دابة أو عظم، فإن محمداً بريء منه.

Rasulullah bersabda kepadaku : "Hai Ruwaifi ! Semoga engkau berumur panjang; untuk itu, sampaikan kepada orang-orang bahwa siapa saja yang menggelung jenggotnya atau memakai kalung dari tali busur panah atau beristinja' dengan kotoran binatang ataupun dengan tulang, maka sesungguhnya Muhammad berlepas dari orang itu". (HR. Ahmad)


وعن سعيد بن جبير رضي الله عنه، قال: (من قطع تميمة من إنسان كان كعدل رقبة) [رواه وكيع]. وله عن إبراهيم قال: كانوا يكرهون التمائم كلها، من القرآن وغير القرآن.

Waki' meriwayatkan bahwa Sai'd bin Jubair berkata:

"Barang siapa memutus suatu tamimah dari seseorang, maka tindakannya itu sama dengan memerdekakan seorang budak".

Dan Waki' meriwayatkan pula bahwa Ibrahim (An Nakha'i) berkata:

"Mereka para sahabat (para sahabat 'Abdullah Ibnu Mas'ud) membenci segala jenis tamimah, baik dari ayat-ayat Al Qur'an atau bukan dari ayat-ayat Al Qur'an."


TERMASUK SYIRIK: MEMAKAI GELANG, BENANG DAN SEJENISNYA SEBAGAI PENGUSIR ATAU PENANGKAL MARA BAHAYA


وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ

"Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka menjawab: "Allah". Katakanlah: "Maka Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, Apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, Apakah mereka dapat menahan rahmatNya?. Katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku". kepada-Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri".(QS. Az Zumar : 38)


عن عمران بن حصين رضي الله عنه، أن النبي صلى الله عليه وسلم رأى رجلاً في يده حلقة من صفر، فقال: (ما هذه)؟ قال: من الواهنة. فقال: (انزعها فإنها لا تزيدك إلا وهناً، فإنك لو مت وهي عليك، ما أفلحت أبداً) رواه أحمد بسند لا بأس به.

Dari 'Imran bin Hushain menuturkan bahwa Nabi SAW melihat seorang laki-laki terdapat di tangannya gelang kuningan, maka beliau bertanya: "Apakah ini ?" Orang itu menjawab: "Penangkal sakit." Nabipun bersabda:"Lepaskan itu, karena ia hanya akan menambah kelemahan pada dirimu; sebab jika kamu mati sedang gelang itu masih ada pada tubuhmu, kamu tidak akan beruntung selama-lamanya. (Hadits dari Imam Ahmad dengan sanad yang bias diterima).


وله عن عقبة بن عامر رضي الله عنه مرفوعاً: (من تعلق تميمة فلا أتم الله له، ومن تعلق ودعة فلا ودع الله له) وفي رواية: (من تعلق تميمة فقد أشرك).

Dan riwayat Ahmad pula dari 'Uqbah bin 'Amir dalam hadits marfu:

"Barang siapa menggantungkan tamimah, semoga Allah tidak mengabulkan keinginannya; dan barang siapa menggantungkan wada'ah, semoga Allah tidak memberi ketenangan pada dirinya. Disebutkan dalam riwayat lain: "Barang siapa menggantungkan tamimah, maka dia telah berbuat syirik".

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Hudzaifah, bahwa ia melihat seorang laki-laki di tangannya ada benang untuk mengobati sakit panas, maka dia putuskan benang itu seraya membaca firman Allah:

وما يؤمن أكثرهم بالله إلا وهم مشركون

"Dan sebagian besar dari mereka itu beriman kepada Allah, hanya saja mereka pun berbuat syirik (kepada-Nya).

Kandungan Bab :

1. Dilarang keras memakai gelang, benang dan sejenisnya seperti tasbeh dari kayu pukah dll, untuk maksud seperti di atas.

2. Dinyatakan bahwa apabila mati, sedangkan gelang atau sejenisnya itu masih melekat pada tubuhnya, tidak akan beruntung. Ini menunjukkan kebenaran pernyataan para sahabat bahwa :"Syirik asghar lebih berat daripada dosa besar".

3. Syirik tidak dapat dima'afkan dengan alasan "Karena tidak tahu"



Wallahu 'alam.

Dazhaf  Sedayulawas  online

Tour Anak MTS M 3 Sedayulawas

Untuk anak anakku 
MTS MUHAMMADIYAH 3 SEDAYULAWAS

Noval, Atika, Tami, Lala, Radwah, Nova, Laela, Dimas, Faqih, Uffi, DKK
Ayo persiapkan diri mu  mari kita taklukkan  Soal soal UN  2016 nt.
Setelah itu kita Kita bisa Refrees Bersama  cari udara segas  ..................
Hooooooooooorrrrrrrrrrreeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee
kita bisa poto poto bersama    ok.